Melihat Dunia Lewat Sudut Pandang Anak di Film “Na Willa”

Bagi penikmat sastra Indonesia, nama ‘Na Willa’ tentu sudah tidak asing lagi. Karakter bocah perempuan keturunan Jawa-Tionghoa ciptaan Reda Gaudiamo ini sukses memikat hati banyak pembaca lewat catatan-catatan harian yang lugu namun kritis. “Na Willa” berlatar di sebuah pinggiran kota Surabaya tempo dulu. Film ini berfokus pada keseharian Willa, seorang anak perempuan yang gemar bermain dan mempertanyakan segala hal di sekitarnya.
Lewat petualangan-petualangan kecilnya, mulai dari mengejar tukang jajanan, berinteraksi dengan Mak (ibunya) dan Pak (ayahnya), hingga menghadapi prasangka-prasangka sosial di lingkungannya. Menampilkan toleransi antar keberagaman budaya dan agama, di film ini juga kita diajak melihat dunia orang dewasa yang rumit melalui kacamata seorang anak kecil yang jujur dan tanpa filter.

Aspek pertama yang langsung mencuri perhatian adalah pengarahan visualnya. Film ini berhasil menangkap esensi Indonesia era lawas tanpa terkesan kuno. Pemilihan palet warna yang cenderung warm (hangat) memberikan efek nostalgia yang kuat, seolah kita sedang membuka album foto keluarga yang sudah mulai menguning namun penuh kenangan.
Kekuatan utama “Na Willa” ada pada performa karakter utamanya. Pemeran Willa berhasil membawakan dialog-dialog polos dengan nada yang natural, tidak dibuat-buat seperti kebanyakan aktor anak di industri arus utama. Chemistry antara Willa, Mak, dan Pak terbangun dengan sangat organik.


“Na Willa adalah pengingat bahwa terkadang, untuk memahami dunia yang rumit ini, kita hanya perlu menyederhanakan cara pandang kita seperti seorang anak kecil.”Pada akhirnya, film ini bukan sekadar tontonan hiburan. Ia adalah sebuah refleksi mendalam bagi orang dewasa. Melalui mata Na Willa, kita ditantang untuk bertanya kembali pada diri sendiri: apakah kita sudah menjadi orang dewasa yang bijaksana, atau kita justru kehilangan kejujuran yang dulu kita miliki saat seusia Willa?